Langsung ke konten utama

Postingan

Maybe, in this case, 'maybe' is the only reason.

Maybe we’re both so similar yet so different at the same time.  Maybe I know you too well, to the point that I can’t understand you.  Maybe I loved you in a way you couldn’t understand, and you were hurt in a way I couldn’t fix.  Maybe we just happened to love each other so much, that it’s breaking us in a way we never knew  was possible.

4 Tahun

4 tahun.  Lama juga, ya. Harusnya, satu tahun ke depan, kamu bakal banyak ngomel ke aku soal dosen pembimbing kamu, sebanyak aku ngeluh ke kamu soal Malang yang semakin macet, bensin mahal dan ngga ada Vivo. Aku juga kebayang kalo kita wisuda bareng. Nanti aku ke Bogor, terus gantian kamu ke Malang. Aku bakal bawa jas supaya kita bisa foto studio disana. Lucu kali, ya. Jadi inget waktu wisuda SMP, waktu aku masih dipelototin ayah kamu, tuh. Aku juga jadi inget waktu kita kelas 12 SMA. Belajar seharian sambil pesen makan. Kamu paling sebel kalo aku udah ketiduran. Terus, kamu bakal manggil mama supaya aku auto bangun dan belajar beneran. Ohiya, mama masih suka ngomongin kamu loh, Lan. Kamu sih, lulus duluan.  Hehe. Ngga banyak yang terjadi dari terakhir kali aku kesini, satu tahun yang lalu. Aku minta maaf ya, Lan, karena jarang pulang. Setelah lulus nanti, aku bakal cari kerja di Bogor, kok. Biar bisa ketemu kamu. Aku juga udah berhenti ngerokok loh, Lan. Pindah vape gapapa, y...

Maya

‘Namanya siapa, Mba?’ ‘Saya Maya, Pak.’ ‘Loh, sama kaya anak saya, tapi masih cantikan sampean, Mba, hehehe…’ Barisan gigi yang menguning menyembul dari balik bibir dan kumis yang hitam dan tebal. Tulang pipinya naik, mengukir gurat-gurat usia dalam perjalanan menuju setengah abad. Sepasang bola mata yang sebelumnya tampak lihai, kini tenggelam di balik lipat dan gumpalan lemak pipi yang berguncang, terkekeh-kekeh, terkikik-kikik. Tahi lalat menyerupai bentuk bulat, berwarna coklat kehitaman, mengkerut bertahan di puncak hidung yang kasar. Sedang sayap-sayap hidungnya penuh bintik serupa cekung-cekung gelap. Di atas sana, rimba berbentuk alis mata berjarak di pangkal hidung. Lapang dahi dibingkai sisiran klimis. Tanpa topi, tanpa peci. Meski batik licin beraroma alkohol nan menyengat melapisi tubuh yang besarnya tiga kali lipat dari tubuhku itu. Tubuhnya yang bungkuk dan gempal bertahta di atas kursi susun futura merah. Sedang simpuh aku di hadapan balutan kain katun ketat yang...

Bagaimana cara jatuh cinta tanpa mengingatmu lagi?

Bulir air mengular mencari ruang untuk mengalir ke tempat yang lebih rendah, menyisakan permukaan keramik yang berulir tanpa genangan. Selanjutnya kusiram lagi lantai keramik di hadapanku, sembari berjongkok dan bertopang dagu. Mencari bentuk-bentuk wajah, benda, pola, apapun itu, yang terbentuk dari sisa-sisa guyuran air, bercak dan debu di tembok, juga bayang lampu yang sekali-kali berkedip karena usia. Meski begitu, pikiranku tak ada disana. Meski tepat di depanku ubin kamar mandi, kedua mataku menampilkan semua hal yang belum usai. Dengan dia salah satunya. Dan waktu-waktu sewaktu masih menjadi kami.  Dan semua hal yang berganti. Kosong meski diisi, sesak meski dikasihi. Mengapa tak kunjung selesai. Mengapa juga tak hilang-hilang. Aku terus berada dalam bayang-bayang. Meski sinar matahari yang begitu hangat telah datang, juga hal-hal manis yang menyenangkan.  Telah lama aku berhenti menyalahkan. Turut senang pada setiap kabar baik yang dibagikan. Tapi seperti ditimpa batu ...

Marlboro dan Surya 12

Dua puluh lima tusuk sate, telah habis sudah. Begitu pula dengan dua piring dengan nasi yang jemblung . Sementara dua gelas teh tawar panas yang sudah bersuhu ruangan, masih kami teguk irit-irit. Sebab masing-masingnya belum ingin beranjak pergi. Rintik-rintik seperti deras di atas atap seng, bulirnya menetes di bagian tepi. Garis halus kasat mata di bagian lampu penerangan. Deras kembali mengguyur pinggir kota. “Gimana kabar mamah?” Aku mendongak dan tersenyum tipis. Sifat terus terangnya masih sama, rupanya. “Selama paket shopee masih dateng ke rumah sih tandanya mamah baik-baik aja,” Kami sama-sama terkekeh sebelum kembali sibuk memikirkan topik selanjutnya. “Jadi, kamu kenapa? Masalah kuliah?” Tak ada ruang untuk basa basi, ternyata. Aku menunduk memainkan tusuk sate, lalu meneguk sedikit teh tawar yang sepet seperti hidupku.  “Bukan. Mungkin. Ngga tau aku.” Tapi sejujurnya, aku memang tak tahu pasti. Semua hal terjadi tiba-tiba, bersamaan, membuatku pening dan gusar, tanpa pan...

Menyenangkan

"Ta!" Aku menoleh setelah melepas helm dan menempatkannya pada salah satu kaca spion yang lebih tinggi. "Kata abangnya, baru ready 15 menit lagi, is it okay?" Langkah besarnya menghampiriku. Ia berdiri dan menjulang. Satu dari sekian hal kecil yang menyenangkan. "Alright then. Mau beli jajan dulu ngga, Ki?" Ia mengangguk, lalu kami beriringan mencari telur gulung. Hawa di alun-alun kota terasa dingin meski tak menusuk. Hujan baru saja reda, aroma aspal yang dibasahi rintiknya, masih menguar di udara. Satu lagi dari sekian hal kecil yang kusukai. Sepanjang perjalanan mencari jajan, aku bercerita padanya tentang seorang teman yang menyebalkan, tentang aku yang sering meninggalkan barang, tentang tumpukan tugas yang menurutnya tak perlu dipikirkan, juga tentang telur rebus dan telur dadar. Sampai ketika kami kembali ke tempat pertama, dan menunggu abang ronde menyiapkan pesanan, aku masih berdongeng ria, sementara ia tersenyum, terpingkal, atau terdiam menden...