"Ta!"
Aku menoleh setelah melepas helm dan menempatkannya pada salah satu kaca spion yang lebih tinggi.
"Kata abangnya, baru ready 15 menit lagi, is it okay?"
Langkah besarnya menghampiriku. Ia berdiri dan menjulang. Satu dari sekian hal kecil yang menyenangkan.
"Alright then. Mau beli jajan dulu ngga, Ki?"
Ia mengangguk, lalu kami beriringan mencari telur gulung.
Hawa di alun-alun kota terasa dingin meski tak menusuk. Hujan baru saja reda, aroma aspal yang dibasahi rintiknya, masih menguar di udara. Satu lagi dari sekian hal kecil yang kusukai.
Sepanjang perjalanan mencari jajan, aku bercerita padanya tentang seorang teman yang menyebalkan, tentang aku yang sering meninggalkan barang, tentang tumpukan tugas yang menurutnya tak perlu dipikirkan, juga tentang telur rebus dan telur dadar.
Sampai ketika kami kembali ke tempat pertama, dan menunggu abang ronde menyiapkan pesanan, aku masih berdongeng ria, sementara ia tersenyum, terpingkal, atau terdiam mendengarkan, mengikuti alur ceritaku yang loncat-loncat tak karuan.
"Lo juga sih, iseng banget jadi orang, heran"
Timpalnya, sembari menerima dua mangkuk ronde hangat, dan memberikan salah satunya padaku.
Sedang aku tersenyum lebar sekali.
Setengah jam berikutnya, kelabu yang tertinggal dan menggantung, perlahan menjadi lebih gelap. Ah, rupanya hari ini bukan waktunya merah muda dan jingga.
"Yuk, pulang."
Diraihnya bungkusan makan malam di tanganku. Seperti yang selalu dilakukannya, meski yang kubawa hanya seberat botol air mineral 330 ml.
Sepanjang perjalanan pulang, aku banyak bicara dalam kepala. Ternyata, tak ada juga guna dari mantra yang kuulang-ulang selama ini. Kukira terpantri, nyatanya terpental kembali.
Ah, entahlah.
Bagaimana pun mulanya, maupun akhirnya, saat ini, aku hanya ingin menambah waktu atau jarak menuju rumahku.
Komentar
Posting Komentar