‘Namanya siapa, Mba?’
‘Saya Maya, Pak.’
‘Loh, sama kaya anak saya, tapi masih cantikan sampean, Mba,
hehehe…’
Barisan gigi yang menguning menyembul dari balik bibir dan
kumis yang hitam dan tebal. Tulang pipinya naik, mengukir gurat-gurat usia
dalam perjalanan menuju setengah abad. Sepasang bola mata yang sebelumnya
tampak lihai, kini tenggelam di balik lipat dan gumpalan lemak pipi yang
berguncang, terkekeh-kekeh, terkikik-kikik. Tahi lalat menyerupai bentuk bulat,
berwarna coklat kehitaman, mengkerut bertahan di puncak hidung yang kasar.
Sedang sayap-sayap hidungnya penuh bintik serupa cekung-cekung gelap. Di atas
sana, rimba berbentuk alis mata berjarak di pangkal hidung. Lapang dahi
dibingkai sisiran klimis. Tanpa topi, tanpa peci. Meski batik licin beraroma
alkohol nan menyengat melapisi tubuh yang besarnya tiga kali lipat dari tubuhku
itu.
Tubuhnya yang bungkuk dan gempal bertahta di atas kursi
susun futura merah. Sedang simpuh aku di hadapan balutan kain katun ketat yang
membungkus kerangka kaki bergaya bak gawang kesebelasan. Dengkulnya yang tebal di
depan puncak kepalaku. Kupendam niat mendongak. Meluruskan perhatian pada
setumpuk dokumen serta map kertas coklat yang berserakan di bawah meja.
Sebagian helai kertas turut bergetar.
Lalu bayang-bayang juga layar terdistorsi melayang-layang
dalam kepala yang berkabut. Yang kuingat, posisiku tak lagi duduk bersila. Tanganku
tak lagi merapikan kertas dan menuliskan alamat tuju pada masing-masing map. Keduanya
kini berpangku satu sama lain, lengkap dengan punggung yang tegak lurus terhadap
bangku kayu. Di kanan dan kiri menguar aroma kopi. Di depanku terlihat kepulan
asap tipis di atas cangkir berwarna gading. Setiap empunya saling melempar
canda. Tawa mereka membahana.
‘Kasian ini si Maya ngga ngerti apa-apa jadi haha hehe, aja,
hahaha…’
Tawa mereka membahana lagi.
Lalu suara denging membuatku mengira gendang telingaku akan pecah.
Sepintas suara berbisik. Katanya, biar saja pecah, supaya tak kudengar
kata-kata yang diucapkannya kali ini.
‘Yang foto cantik, sih, jadi gampang saya senyumnya. Hahaha…’
Tawanya, menular pada salah seorang kawannya yang berdiri satu
dua meter di sampingku.
Perawakannya lebih kecil dibandingkan sosok di bangku futura
merah juga kursi kayu sebelumnya. Gaya rambutnya lebih anak muda, mungkin juga
usianya. Sepasang sepatu sneakers ternama membungkus telapak yang melangkah
mundur, sedikit terloncat-loncat, mendekati instalasi kesenian tiga dimensi
yang menjulang setinggi enam kaki.
Beberapa gambar diambil dengan pose yang berbeda. Lalu suaranya
menggema, ucapnya terima kasih diselingi tawa.
‘Hahaha…’
‘Hahaha…’
‘Hahaha…’
Saling bersahut-sahutan, berputar-putar, berlari-lari,
berenang-renang, naik turun, berputar-putar, hilang dan timbul bergantian.
Sampai sentuh di kedua bahuku menjalarkan rasa nyeri,
menusuk hingga melemaskan tungkai.
‘Sakit, ya? Ini tandanya kamu kurang air putih, May,’
Ditekannya lagi, kali ini di atas tulang belikat, kemudian menuruni
tulang belakang, menuruni bagian pinggul. Gerakannya cepat dan keras. Merambah
hingga bagian samping jaringan lembut pada dua sisi dada. Rintihku dibalas
tawa. Lagi-lagi suara tawa. Katanya, tak mengapa, posisi tidurku salah
menghadap. Padahal bukan rasa sakit itu yang menggerogoti kewarasanku. Usaha
melepaskan diri pun menjadi jauh lebih sulit dan sia-sia, kala kedua tangan dan
sikuku dilipat olehnya di depan dada. Yang kuingat hanya sepasang hasta besar,
gelap terbakar mentari, bergurat-gurat, mendekap hingga tulang-tulangku mulai
meringkih. Meski tak selirih rasa malu, marah dan meloya. Ah, masih jelas pula rupanya
dalam ingatanku, panas tubuh dan bau sigaret yang terbakar saat punggung
bertemu dada.
‘Udah, gapapa, coba dulu, hahaha…’
‘Sakit ya? Hahaha…’
Semua orang disana tertawa. Seorang bersandar di kusen jendela,
menggenggam secarik dua carik kertas, tertawa. Seorang bersantai di atas sofa tamu,
tertawa. Seorang menopang tubuh dengan siku di batas serambi, tertawa. Seorang menghembuskan
kepulan asap putih, lalu tertawa.
Telingaku berdenging kembali. Gelegar tawa saling
bersahut-sahutan, berputar-putar, berlari-lari, berenang-renang, naik turun, berputar-putar,
hilang dan timbul bergantian. Aku mengadu dan menerima bahwa hal ini akan terus
terjadi padaku yang dianggapnya telah diberi karunia lebih oleh Tuhan. Aku
mencaci dan menerima bahwa harus kujaga hubungan agar tetap baik dan
profesional. Tak perlu mengurai dan mengumbar duduk perkara. Bahwasanya tiada
bermaksud seperti apa juga bagaimana.
Saat tersadar, lambat laun riuh mereda menjadi geraman mesin
kendaraan beroda empat.
‘Aku minta maaf kamu harus mengalami kejadian seperti ini,
May.’
Aku menunduk, tercekat.
‘Iya, Pak.’
‘Ngga seharusnya dia seperti itu.’ Suaranya yang berat
menahan geram. ‘Itu yang membuatku kesal. Bagiku, kamu mahal sekali, May, mahal
sekali,’
‘Kamu seperti lagu blues tahun tujuh puluhan, yang bisa
kunikmati sendiri di kala tenang,’
‘Ingin kutitipkan kamu pada langit, May. Di surga nanti,
kalau boleh meminta apa saja, aku akan meminta kamu.’
Ujarnya, sembari menghadiahi bungkusan kain kecil. Di
dalamnya, gantungan kunci dengan hiasan mutiara putih di tengah pernak pernik
hitam seukuran lebih kecil dari biji kacang hijau.
‘Ini tanda pertemanan kita. Perkenalan yang sangat berarti
untukku. Batu-batu hitam itu, adalah hidup kamu, senang atau sedih. Mutiara
putih itu aku, yang selalu ada di setiap bagaimana perasaanmu. Sejauh apa pun,
pasti kulihat. Sebab bagiku kamu mahal sekali,’
‘Mahal sekali…’
“Mahal sekali…’
‘Mahal sekali…’
Bak kaset rusak di radio tua, berputar-putar, berlari-lari,
berenang-renang, naik turun, berputar-putar, hilang dan timbul bergantian.
‘Saya akan coba memproses ini, May. Saya tidak takut
kehilangan rekanan, demi menjaga tim ini bersama saya. Terima kasih sudah
bercerita. Ini pasti berat untuk kamu.’
Setelah sepuluh menit berbicara melalui panggilan telepon, pemilik
suara itu kembali menempati kursi di arah tenggara dari tempatku berusaha
mengatur aliran udara yang tersenggal-senggal masuk ke paru-paru.
Puji syukur mengalir sepanjang relung. Sampai suasana
kembali menghangat dan penuh canda.
‘Iya, staff saya yang cowok-cowok itu nanti kamu sapa dan
ajak ngobrol juga, ya, May. Wah, pasti seneng banget mereka. Ada satu staff
saya itu, cewek juga, saya tugasin buat bagian nyemangatin mereka, hahahaha….’
Mendegam-degam tawa yang sama. Riuh dan denging yang sama.
‘Mungkin emang pandangan orang itu yo, beda-beda, May.
Mungkin kalo kamu yo, ngga nyaman. Tapi ada juga, lho, sing bangga bikin konten, diam-diam
bergerak mengalahkan istrimu, hahahha…’
‘Mungkin harusnya yo, bukan kamu sing ndek posisi iki, May.
Biasanya cewek-cewek sales atau marketing tuh, hehehe…’
Aku benar-benar merasa mual.
Kemudian selang sepekan. Kelopak yang menjaga gelap sekuat
tenaga, akhirnya menyerah di hadapan cahaya. Membuka tirainya, mengecilkan
pupil, menjernihkan pandang. Menangkap lalu lalang kendaraan roda dua, roda
empat, sepeda dengan gerobak, sekumpulan sepeda, sampai semua hal terlihat
sama, menjadi bayang-bayang samar yang berpendar.
‘….ma-sama salah. Aku paham dan sangat mewajari kalau kamu
sampai keluar statement seperti itu. Pasti kamu sedang dalam kondisi yang penuh
emosi. Tapi responku yang tertawa bukan karena aku mendukung hal itu. Kalau aja
kamu teriak minta tolong atau kabur, pasti aku tolong, May. Karena kamu sudah
kuanggap sebagai bagian dari keluargaku. Kamu sudah kuanggap sebagai adikku.’
Lalu lalang kendaraan kembali nyata.
‘…bahkan beliau sampai memutuskan hubungan kerjasama itu.
Beliau sudah mati-matian membela kamu. Kasihan beliau. Semua ini demi menjaga
keutuhan tim. Aku paham perasaanmu. Tapi coba jangan terlalu memikirkan diri
sendiri, terserah kalau kamu mau meneruskan drama ini, tapi apa kamu ngga
memikirkan teman-teman lainnya?’
Berenang-renang, naik-turun, berputar-putar.
‘Aku sangat mengapresiasi kamu mengangkat hal ini. Aku jadi paham
kalau kamu ngga nyaman dengan hal seperti itu.’
Berlari-lari, hilang dan timbul bergantian.
Lalu lalang kendaraan kembali berpendar, lalu nyata dalam kenyataan
yang berbeda. Paru-paruku seakan terhimpit sebongkah batu besar. Tubuhku
menggigil, kehilangan tenaga dan tersenggal-senggal.
‘Maaf ternyata kusalah mengartikannya. Tak semestinya
kalimat-kalimat itu. Tak pernah ada maksud menggodamu, Maya. Pertemanan kita
sangat berarti. Semua yang kulakukan karena aku peduli denganmu, dengan
teman-teman. Aku akan sangat berterima kasih kalau kamu tidak bercerita ini ke
siapa pun, yang bisa saja tidak benar-benar mengerti.’
Perih dan panas seharusnya menjalar dari tepi kuku yang bopal-bopal
terkelupas. Barangkali lumpuh reseptor pendeteksi rasa nyeri itu, meski setitik
warna merah kini bak tetes embun di ujung ibu jari. Warna merah yang sama pada asam lambung yang terus terpompa.
‘Mba, Mba, maaf, sudah sampai…’
Suara ibu pengemudi menarik kembali kesadaranku. Setelah
bersiap, aku beranjak. Mendekat pada undakan di depan daun pintu yang terbuka. Mengucap
selamat pagi dengan riang.
Terlintas dialog Joseph Gordon-Levitt pada Christian Bale,
You gotta learn to hide the anger,
Practice smiling in a mirror,
It’s like putting on a mask.
Komentar
Posting Komentar