Langsung ke konten utama

Postingan

Maya

‘Namanya siapa, Mba?’ ‘Saya Maya, Pak.’ ‘Loh, sama kaya anak saya, tapi masih cantikan sampean, Mba, hehehe…’ Barisan gigi yang menguning menyembul dari balik bibir dan kumis yang hitam dan tebal. Tulang pipinya naik, mengukir gurat-gurat usia dalam perjalanan menuju setengah abad. Sepasang bola mata yang sebelumnya tampak lihai, kini tenggelam di balik lipat dan gumpalan lemak pipi yang berguncang, terkekeh-kekeh, terkikik-kikik. Tahi lalat menyerupai bentuk bulat, berwarna coklat kehitaman, mengkerut bertahan di puncak hidung yang kasar. Sedang sayap-sayap hidungnya penuh bintik serupa cekung-cekung gelap. Di atas sana, rimba berbentuk alis mata berjarak di pangkal hidung. Lapang dahi dibingkai sisiran klimis. Tanpa topi, tanpa peci. Meski batik licin beraroma alkohol nan menyengat melapisi tubuh yang besarnya tiga kali lipat dari tubuhku itu. Tubuhnya yang bungkuk dan gempal bertahta di atas kursi susun futura merah. Sedang simpuh aku di hadapan balutan kain katun ketat yang...

Bagaimana cara jatuh cinta tanpa mengingatmu lagi?

Bulir air mengular mencari ruang untuk mengalir ke tempat yang lebih rendah, menyisakan permukaan keramik yang berulir tanpa genangan. Selanjutnya kusiram lagi lantai keramik di hadapanku, sembari berjongkok dan bertopang dagu. Mencari bentuk-bentuk wajah, benda, pola, apapun itu, yang terbentuk dari sisa-sisa guyuran air, bercak dan debu di tembok, juga bayang lampu yang sekali-kali berkedip karena usia. Meski begitu, pikiranku tak ada disana. Meski tepat di depanku ubin kamar mandi, kedua mataku menampilkan semua hal yang belum usai. Dengan dia salah satunya. Dan waktu-waktu sewaktu masih menjadi kami.  Dan semua hal yang berganti. Kosong meski diisi, sesak meski dikasihi. Mengapa tak kunjung selesai. Mengapa juga tak hilang-hilang. Aku terus berada dalam bayang-bayang. Meski sinar matahari yang begitu hangat telah datang, juga hal-hal manis yang menyenangkan.  Telah lama aku berhenti menyalahkan. Turut senang pada setiap kabar baik yang dibagikan. Tapi seperti ditimpa batu ...

Marlboro dan Surya 12

Dua puluh lima tusuk sate, telah habis sudah. Begitu pula dengan dua piring dengan nasi yang jemblung . Sementara dua gelas teh tawar panas yang sudah bersuhu ruangan, masih kami teguk irit-irit. Sebab masing-masingnya belum ingin beranjak pergi. Rintik-rintik seperti deras di atas atap seng, bulirnya menetes di bagian tepi. Garis halus kasat mata di bagian lampu penerangan. Deras kembali mengguyur pinggir kota. “Gimana kabar mamah?” Aku mendongak dan tersenyum tipis. Sifat terus terangnya masih sama, rupanya. “Selama paket shopee masih dateng ke rumah sih tandanya mamah baik-baik aja,” Kami sama-sama terkekeh sebelum kembali sibuk memikirkan topik selanjutnya. “Jadi, kamu kenapa? Masalah kuliah?” Tak ada ruang untuk basa basi, ternyata. Aku menunduk memainkan tusuk sate, lalu meneguk sedikit teh tawar yang sepet seperti hidupku.  “Bukan. Mungkin. Ngga tau aku.” Tapi sejujurnya, aku memang tak tahu pasti. Semua hal terjadi tiba-tiba, bersamaan, membuatku pening dan gusar, tanpa pan...

Menyenangkan

"Ta!" Aku menoleh setelah melepas helm dan menempatkannya pada salah satu kaca spion yang lebih tinggi. "Kata abangnya, baru ready 15 menit lagi, is it okay?" Langkah besarnya menghampiriku. Ia berdiri dan menjulang. Satu dari sekian hal kecil yang menyenangkan. "Alright then. Mau beli jajan dulu ngga, Ki?" Ia mengangguk, lalu kami beriringan mencari telur gulung. Hawa di alun-alun kota terasa dingin meski tak menusuk. Hujan baru saja reda, aroma aspal yang dibasahi rintiknya, masih menguar di udara. Satu lagi dari sekian hal kecil yang kusukai. Sepanjang perjalanan mencari jajan, aku bercerita padanya tentang seorang teman yang menyebalkan, tentang aku yang sering meninggalkan barang, tentang tumpukan tugas yang menurutnya tak perlu dipikirkan, juga tentang telur rebus dan telur dadar. Sampai ketika kami kembali ke tempat pertama, dan menunggu abang ronde menyiapkan pesanan, aku masih berdongeng ria, sementara ia tersenyum, terpingkal, atau terdiam menden...

Yang sama dan berbeda

‘Ta, taichan yuk?’ Kupandangi layar ponsel cukup lama, menimang pilihan-pilihan yang beradu di kepala.  Ah, sudahlah. Ini tak kan jadi lebih dari biasa. Begitu dalihku sembari bersolek. Mengoles rona merekah dengan tetap menjaga sederhananya. Mengambil blouse merah muda sebelum menggantinya dengan busana berwarna serba gulita yang terlihat selaras dengan warna khaki pada tas selempang jua sandal pergi yang hendak kubawa.  Urung niatku menata gerai hitam keabuan di atas kepala, dibiarkan olehku jatuh bergelung di tepi bahu. Lantas lirih aku mendengu atas mudahnya dikalahi antusiasme yang tak ada gunanya. Lalu berjalanlah aku segera ke luar pagar rumah. Kemudian melirik arloji, mengintip waktu, menyerana. Ah, sedang apa, coba?  Batin sesal yang menghampiri dan menggangguku, atas niat yang nampak terpampang lebih dari seharusnya. Ah, sudahlah. Ini tak kan jadi lebih dari biasa, aku rapal kembali seperti mantra. Lebih dari sejenak waktu berlalu, sampailah ia. Mengenakan sweat...