Langsung ke konten utama

Postingan

Yang sama dan berbeda

‘Ta, taichan yuk?’ Kupandangi layar ponsel cukup lama, menimang pilihan-pilihan yang beradu di kepala.  Ah, sudahlah. Ini tak kan jadi lebih dari biasa. Begitu dalihku sembari bersolek. Mengoles rona merekah dengan tetap menjaga sederhananya. Mengambil blouse merah muda sebelum menggantinya dengan busana berwarna serba gulita yang terlihat selaras dengan warna khaki pada tas selempang jua sandal pergi yang hendak kubawa.  Urung niatku menata gerai hitam keabuan di atas kepala, dibiarkan olehku jatuh bergelung di tepi bahu. Lantas lirih aku mendengu atas mudahnya dikalahi antusiasme yang tak ada gunanya. Lalu berjalanlah aku segera ke luar pagar rumah. Kemudian melirik arloji, mengintip waktu, menyerana. Ah, sedang apa, coba?  Batin sesal yang menghampiri dan menggangguku, atas niat yang nampak terpampang lebih dari seharusnya. Ah, sudahlah. Ini tak kan jadi lebih dari biasa, aku rapal kembali seperti mantra. Lebih dari sejenak waktu berlalu, sampailah ia. Mengenakan sweat...

Malam jangan berlalu

Aku tak hafal apa saja nama jalan yang aku dan kamu lalui waktu itu. Aku ingat itu jalan layang, begitu panjang dan lengang. Membentang langit nan gelap keabuan tanpa bintang, gemerlapnya dicuri bangunan-bangunan tinggi di tengah kota. Aku tak lagi ingat lagu siapa yang mengalun lembut memecah deru mesin dan pendingin ruangan dalam ruang bergerak itu. Namun liriknya menelisik masuk dalam relungku tanpa permisi, menjejak rengkah di atas patah. Tapi aku dan kamu sama-sama mengerti. Bahkan bila terucap hanya dalam benak masing-masing.  Malam jangan berlalu, malam jangan berlalu, dan semakin habislah waktu. Namun aku dan kamu sama-sama mengerti. ....atau tidak?

Si Manis

Perempuan itu sungguh paham bagaimana bersikap manis.   Lihatlah bagaimana rasa seolah ingin tahu memenuhi dua bola mata yang memandang tabik lawan bicara di hadapannya. Ia mengerti kapan waktu yang tepat untuk memberi jawab, atau sehalus mengerutkan kening dan bergumam paham. Demikian ia mencermati tiap kata. Membalas lebih dari seperlunya. Menjaga senyum dan kepolosannya. Membuka jalan yang tak pernah ada.  Ahli betul ia dalam bidangnya, ahli ia mencipta ilusi damba. Kiranya, bermain menyembuhkan luka.  Rupa-rupanya, semakin dalam lubang itu menganga.  Ia telah kehilangan nyawa. 

Sehat selalu, ayah

‘ Yah, ayo, aku telat, nih!’ Kala itu aku belum punya arloji, tapi tenda nasi uduk Bu Haji yang mulai sepi pengunjung mampu menjadi penanda waktu yang telah beranjak, paling tidak berkisar setengah 8 pagi. Kurang dari itu, pasti masih banyak ibu-ibu yang antri demi nasi uduk atau lontong sayur untuk bekal putra-putrinya. Lebih pagi lagi, waktunya bapak-bapak ronda yang bertukar berita dengan bapak-bapak dari masjid selepas subuh, ditemani secangkir teh panas dengan pisang dan bakwan goreng yang baru masak. ‘Yah, ayo!’ Seru ku lagi, mendapati kecepatan motor yang konstan. Bayang-bayang berdiri di tengah lapangan upacara sampai jam istirahat, menumbuhkan niatku untuk kembali pulang dan menulis surat izin sakit kepada wali kelas. ‘Oke, Nak, pegangan ya!’ Seketika, ayah merendahkan tubuhnya, seolah bersiap menjadi seorang pembalap profesional. Sebelah tanganku pun segera memeluk erat pinggang ayah yang lebar nan empuk seperti ban berenang, sedang sebelah lainnya menahan topi merah putih di...
Si bodoh ini, barangkali si  lebih dari  bodoh ini,  Tak jera-jera rupanya mengadu peruntungan walau buntu tepat dipandang mata, tak sudah-sudah memupuk omong kosong juga harapan sia-sia, tak bosan-bosan menjadi dungu dalam urusan jatuh cinta.