Hujan yang telah membawaku
kembali ke masa lalu berangsur angur mereda. Satu per satu orang-orang mulai
bergegas meninggalkan halte dan kembali dengan urusan mereka masing-masing
sebelum hari beranjak semakin malam. Aku sedang membereskan barang-barangku dan
bersiap melanjutkan perjalanan ketika kedua mataku menangkap sesosok gadis yang
telah memberikan arti lebih di dalam hidup remajaku.
Aku harap kalimat jodoh pasti
bertemu berlaku padaku saat ini.
Aku mulai memperhatikannya dari
jauh, rupanya tak jauh berbeda dengan masa SMA dulu, hanya saja terlihat lebih
dewasa. Aku terhanyut dengan suasana yang membawa kembali rindu. Ia tengah berbicara
dengan seseorang lewat telepon. Andai dia tau betapa aku merindukannya.
Oh, aku sangat amat merindukannya.
Lebih dari yang kusadari.
Rasanya seperti bumi berhenti
berputar, dan waktu berhenti berlalu, bahkan semua hal di sekelilingku seakan
bergerak lambat. Hanya ada aku dan dia di antara gerimis hujan. Di mataku,
gadisku menjadi lebih muda. Rambut yang sebelumnya tergerai sebahu kini diikat
satu. Kemeja kotak-kotak dan celana jenas yang membungkus tubuh mungilnya
digantikan oleh seragam putih abu-abu. Dan halte tempat kami meneduh, berubah
menjadi warung kecil di pinggir jalan menuju rumahnya. Memutar kembali cerita
lama.
Aku mengenalnya dari awal masa
orientasi siswa. Saat itu aku sedang bergurau bersama teman-temanku dan
bertaruh perihal Ratu MOS yang akan diumumkan hari itu. Kedua mata kami
berpapasan tanpa sengaja ketika aku tengah memperhatikan adik-adik baruku. Perawakannya
yang mungil dan sifatnya yang sederhana, menuntun hatiku untuk jatuh kepadanya.
Dia berbeda dengan setiap gadis
yang kukenal sebelumnya. Pribadinya yang sederhana dan penuh semangat membawa
kehangatan tersendiri kepadaku. Belum lagi kedua matanya yang berbinar cerah serta
ukiran di bibirnya yang membuatku ingin selalu menjaganya agar tetap terukir
indah.
Gadis ini lah yang telah
mengajariku banyak hal. Dia yang mengajariku untuk lebih serius dalam belajar,
mengingat ujian nasional serta tes perguruan tinggi yang menantiku di awal
tahun. Dia yang membawaku ke dunia penuh cerita, memperkenalkanku pada
buku-buku bacaan dan membantuku menemukan bakat terpendam. Dia yang membuatku
tidak pernah merasakan keinginan untuk menyentuh dunia rokok, minuman keras,
bahkan tawuran dan balap motor. Dia yang membuatku belajar mencintai diri
sendiri. Aku hanyalah seorang pemuda biasa pada awalnya, dan seorang yang
berhasil berkarya di majalah majalah ternama setelah mengenalnya.
Aku mengingat kembali hubunganku
dengan beberapa gadis setelah kepergiannya yang tanpa pamit. Semua terlihat
kelabu tanpa warna. Hanya menjadi salah satu jalanku untuk menghibur diri. Aku
sungguh merindukan kilau di kedua matanya. Aku rindu senyumnya yang selalu
diiringi lesung pipi. Aku rindu suara tawa dan ucapan-ucapan semangatnya. Aku
rindu cubitan-cubitan yang diberikannya ketika merasa kesal terhadapku. Aku
rindu memeluknya, mendengar keluh kesahnya dan menemaninya di setiap waktu. Ya
Tuhan. Masih ingatkah dia padaku?
Akankah..
Akankah ia masih merasakan hal
yang sama?
Mungkin saja aku bisa memulainya
kembali.
Di halte ini, di waktu hujan
turun.
Kuurungkan niatku ketika sebuah
kendaraan beroda dua berhenti tepat di samping motor milikku. Kemudian si
pengemudi melepas helm yang menutupi wajahnya. Melambaikan tangan memanggil
nama gadis yang berdiri tak jauh di sampingku.
“Maaf, Kak Fadhli ya?”
Suara itu. Tubuhnya sedikit
merunduk ketika melewatiku.
“Aku duluan ya, kak, mari.” Ia
mengangguk sopan kemudian tersenyum.
Lagi-lagi meninggalkanku, walau
kini mengucap pamit.
Komentar
Posting Komentar