Langsung ke konten utama

PAMIT pt.2 (end)

Hujan yang telah membawaku kembali ke masa lalu berangsur angur mereda. Satu per satu orang-orang mulai bergegas meninggalkan halte dan kembali dengan urusan mereka masing-masing sebelum hari beranjak semakin malam. Aku sedang membereskan barang-barangku dan bersiap melanjutkan perjalanan ketika kedua mataku menangkap sesosok gadis yang telah memberikan arti lebih di dalam hidup remajaku.

Aku harap kalimat jodoh pasti bertemu berlaku padaku saat ini.

Aku mulai memperhatikannya dari jauh, rupanya tak jauh berbeda dengan masa SMA dulu, hanya saja terlihat lebih dewasa. Aku terhanyut dengan suasana yang membawa kembali rindu. Ia tengah berbicara dengan seseorang lewat telepon. Andai dia tau betapa aku merindukannya.

Oh, aku sangat amat merindukannya. Lebih dari yang kusadari.

Rasanya seperti bumi berhenti berputar, dan waktu berhenti berlalu, bahkan semua hal di sekelilingku seakan bergerak lambat. Hanya ada aku dan dia di antara gerimis hujan. Di mataku, gadisku menjadi lebih muda. Rambut yang sebelumnya tergerai sebahu kini diikat satu. Kemeja kotak-kotak dan celana jenas yang membungkus tubuh mungilnya digantikan oleh seragam putih abu-abu. Dan halte tempat kami meneduh, berubah menjadi warung kecil di pinggir jalan menuju rumahnya. Memutar kembali cerita lama.

Aku mengenalnya dari awal masa orientasi siswa. Saat itu aku sedang bergurau bersama teman-temanku dan bertaruh perihal Ratu MOS yang akan diumumkan hari itu. Kedua mata kami berpapasan tanpa sengaja ketika aku tengah memperhatikan adik-adik baruku. Perawakannya yang mungil dan sifatnya yang sederhana, menuntun hatiku untuk jatuh kepadanya.

Dia berbeda dengan setiap gadis yang kukenal sebelumnya. Pribadinya yang sederhana dan penuh semangat membawa kehangatan tersendiri kepadaku. Belum lagi kedua matanya yang berbinar cerah serta ukiran di bibirnya yang membuatku ingin selalu menjaganya agar tetap terukir indah.

Gadis ini lah yang telah mengajariku banyak hal. Dia yang mengajariku untuk lebih serius dalam belajar, mengingat ujian nasional serta tes perguruan tinggi yang menantiku di awal tahun. Dia yang membawaku ke dunia penuh cerita, memperkenalkanku pada buku-buku bacaan dan membantuku menemukan bakat terpendam. Dia yang membuatku tidak pernah merasakan keinginan untuk menyentuh dunia rokok, minuman keras, bahkan tawuran dan balap motor. Dia yang membuatku belajar mencintai diri sendiri. Aku hanyalah seorang pemuda biasa pada awalnya, dan seorang yang berhasil berkarya di majalah majalah ternama setelah mengenalnya.

Aku mengingat kembali hubunganku dengan beberapa gadis setelah kepergiannya yang tanpa pamit. Semua terlihat kelabu tanpa warna. Hanya menjadi salah satu jalanku untuk menghibur diri. Aku sungguh merindukan kilau di kedua matanya. Aku rindu senyumnya yang selalu diiringi lesung pipi. Aku rindu suara tawa dan ucapan-ucapan semangatnya. Aku rindu cubitan-cubitan yang diberikannya ketika merasa kesal terhadapku. Aku rindu memeluknya, mendengar keluh kesahnya dan menemaninya di setiap waktu. Ya Tuhan. Masih ingatkah dia padaku?

Akankah..

Akankah ia masih merasakan hal yang sama?

Mungkin saja aku bisa memulainya kembali.

Di halte ini, di waktu hujan turun.

Kuurungkan niatku ketika sebuah kendaraan beroda dua berhenti tepat di samping motor milikku. Kemudian si pengemudi melepas helm yang menutupi wajahnya. Melambaikan tangan memanggil nama gadis yang berdiri tak jauh di sampingku.

“Maaf, Kak Fadhli ya?”

Suara itu. Tubuhnya sedikit merunduk ketika melewatiku.

“Aku duluan ya, kak, mari.” Ia mengangguk sopan kemudian tersenyum.


Lagi-lagi meninggalkanku, walau kini mengucap pamit.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

He's still my favorite star.

But I've stepped out of his gravity. There was a time I thought I'd shine brighter orbiting his. As if light only made sense when it came from his direction. Maybe now, I want to be the sea. Or maybe dust. A part of everything  and owed to no one.  Maybe a voice, a line between letters. Or a scent that lingers in the doorway, long after I've left. Maybe I just want to be human again. Someone ordinary. Someone allowed to feel joy without apologizing for it. Someone who still waits for good news without bracing for the worst. Who still hopes. Who forgets, and forgives herself, anyway. I still look at the sky. Mostly after dawn, when everything is hushed, and the prayers still hang in the air. He's probably shining somewhere else now. He always belonged  to a different sky than the one I could reach. And yes, some nights I miss him before I even realize I do. And some mornings, I still look for him out of habit. Glance upward as if he'd still be there. But I'm lear...

I'm starting to wonder if not knowing you anymore was ever the right way.

I've kept my eyes from chasing your name, taught my hands not to reach  for any trace of you. I thought I'd drawn the line.  Thought this might work. I tried to finish the feelings, patiently.  Sometimes still letting them stop by as if they might leave on their own.  I thought I could. I thought I'd grown. Then I saw you. Not on purpose.  Not in any way I could prepare for. And just like that, you tore through every wall I've been rebuilding.  Hole after hole. Until there was no wall at all. So what now? The gap cuts again. And God, I miss you so much, in a way that makes me unsure I could survive this twice. 

It wasn’t an ending.

Not really. Just something unplanned, that turned out to be a beginning. This time, I freed myself from the duty of trying. From the duty to hold, to understand, to accept, question, answer, and wait for something that never once met me halfway. And for the first time in months after everything fell apart, I felt tired in a way that didn’t scare me. Like my body was finally allowed to stop bracing for impact. The fog isn’t gone. But it’s thinning. And though the way out is still sunless, I can feel it. I can feel that there is a way out. Yes, it’s the irony that stings. And the hypocrisy that burns. That I gave so much grace to everything. Except for myself. That I kept waiting to feel like I was worth staying for. When it was always me I kept abandoning. I don’t know how long this will take. How much of me I’ll have to rebuild. Or how many days will still taste like survival. But for now, this is enough. More than enough. Tomorrow can come when it does. Yesterday can stay where it bel...