Aku melirik arloji hitam yang
melekat erat di pergelangan tangan kananku, sudah lebih dari satu jam namun
langit belum juga berhenti menangis. Bahkan tangisannya bertambah deras seiring
waktu berjalan. Kilatan cahaya mulai terlihat di antara awan kelabu yang
memenuhi langit senja itu, disusul oleh siulan petir yang seakan memperparah
tangis sang langit. Rasa kesal mulai menghampiriku mengingat hari mulai
menjelang malam sedangkan aku sama sekali belum mempersiapkan presentasi untuk
ujian salah satu mata kuliahku besok. Sebuah
raungan pun mulai terdengar dari dalam perutku. Uh, aku baru ingat belum makan
siang.
Halte tempatku berteduh mulai
ramai dikunjungi mereka yang bernasib sama sepertiku. Terkurung hujan disaat
banyak keperluan yang menuntut diselesaikan. Contohnya pria paruh baya yang
berdiri di penghujung kanopi halte. Pria itu memakai kemeja biru bergaris dan
celana bahan hitam, seorang pegawai yang terlihat kesal dengan keadaan. Hal itu
dapat disimpulkan dari raut wajahnya yang berkerut gusar, serta gerak-geriknya
yang bolak-balik mengecek waktu di ponsel pintarnya.
Berbeda halnya dengan gadis
berseragam putih abu-abu dan pemuda berseragam serupa di sampingnya. Mereka
berdiri berjarak dua orang dariku. Diam-diam si pemuda mendekatkan jari
jemarinya ke arah punggung tangan milik gadis di sebelahnya. Dan bisa ditebak
apa yang selanjutnya terjadi.
Aku tersenyum kecil melihatnya.
Melemparku pada memori ketika aku berada di posisi mereka. Hari itu adalah hari
yang bersejarah bagiku. Untuk kali pertama aku berani mengajaknya pulang
bersama sepulang sekolah, walaupun pada kenyataannya rumah kami berbeda arah,
tentu saja aku rela melakukan apapun untuknya. Ya, cinta remaja memang tidak
rasional.
Hujan yang turun tiba-tiba
memaksa kami untuk mencari tempat berteduh. Pilihan kami jatuh pada warung
kecil di pinggir jalan. Dia berdiri di sampingku, sesekali menggosok-gosokkan
kedua tangannya. Hal kecil tersebut aku anggap sebagai jalan untuk menyentuh
hatinya. Kulepas perlahan jaket yang sedang kukenakan kemudian meletakannya
dengan sangat hati hati di bahunya. Seketika ia memandangku malu-malu. Pipinya yang
merona kemerahan dan senyumnya yang dikulum membawaku terbang ke angkasa. Membuat
jantungku berdegup semakin cepat, memberi sensasi aneh di dadaku. Ah, cantiknya.
Suasana yang hening semakin membuatku salah tingkah. Aku tak lagi tahan dengan
situasi ini. Gemuruh dalam hatiku mulai meronta ingin berekspresi. Suka. Suka.
Suka. Aku suka kamu. Sesederhana itu, namun tertahan di lidahku. Ya Tuhan.
Mengapa begitu sulit mengutarakan cinta.
“Aku sayang sama kamu, dek”
Aku ingat dengan jelas jari
jariku yang menggenggam erat kedua tangannya. Wajahku menunduk, tak berani
menatap kedua bola mata yang telah membuatku jatuh hati sejak pertama kali bertatap
wajah. Detak jantungku semakin cepat, sampai-sampai aku khawatir dapat
didengarnya. Beberapa detik kemudian dia memintaku untuk mengangkat dagu,
kuturuti permintaannya namun tetap mengalihkan pandangan. Apa yang dilakukannya
benar benar membuat tubuhku kaku tak bergerak, bahkan sulit rasanya untuk
menghirup udara. Ya, gadis itu menyentuh pipiku dengan bibirnya yang mungil.
Dan di antara rintik hujan sore
itu, aku lah orang yang paling bahagia di dunia.
Kilasan perjalanan cinta kami
bergantian tayang di pikiranku layaknya mesin pemutar film di layar lebar.
Semenjak saat itu aku selalu mengantarnya pulang ke rumah seusai sekolah.
Menemaninya ke toko buku untuk membeli novel-novel karya pengarang favoritnya.
Mengetuk pintu demi pintu, bersama sama mencari dana untuk program kerja dalam
organisasinya. Memberikan kejutan kejutan manis untuknya di tanggal kami
memulai hubungan. Bersepeda di pagi hari dan menghabiskan waktu bersamanya.
Masih jelas dalam ingatanku betapa
menggemaskannya wajah itu setiap kali ia bercerita tentang apa yang telah
dilaluinya. Kedua matanya yang berbinar, membuatku tak ingin mengalihkan
pandangan. Aku ingat bagaimana kami saling menguatkan satu sama lain di saat
sulit. Bagaimana kami saling menahan ego dan mengalah, tak tahan berkelahi. Dan
bagaimana aku dekat dengan kedua orangtua dan adik kecilnya yang manis.
Seperti musim panas yang berakhir
karna musim hujan telah tiba. Pada awalnya aku merasa bahwa hubungan kami akan
terus berlanjut seperti kisah cinta di novel-novel romansa favoritnya.
Berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Aku juga tidak tahu mengapa dan siapa
yang memulai. Tiba saatnya semua terasa hambar. Kami menjadi jarang bertemu dan
berkomunikasi. Entah aku yang mulai disibukkan dengan persiapan ujian nasional,
atau rasa bosan yang diam-diam menyeruak di hatinya. Aku tidak pernah tahu
alasan kepergiannya sampai detik ini. Tiba-tiba dia menghilang tanpa kabar.
Menjauh dan tak lagi menganggapku ada. Hingga pada akhirnya sebuah nama asing
terukir di bio media sosialnya dan orang lain pun datang menggantikan takhtaku
di hatinya.
Setelahnya aku mencoba memulai
hubungan dengan yang lain. Namun tak lagi terasa sama seperti ketika aku
bersamanya. Ya, masih ada harapanku untuk kembali bersamanya.
Komentar
Posting Komentar