Langsung ke konten utama

PAMIT pt.1

Aku melirik arloji hitam yang melekat erat di pergelangan tangan kananku, sudah lebih dari satu jam namun langit belum juga berhenti menangis. Bahkan tangisannya bertambah deras seiring waktu berjalan. Kilatan cahaya mulai terlihat di antara awan kelabu yang memenuhi langit senja itu, disusul oleh siulan petir yang seakan memperparah tangis sang langit. Rasa kesal mulai menghampiriku mengingat hari mulai menjelang malam sedangkan aku sama sekali belum mempersiapkan presentasi untuk ujian salah satu mata kuliahku besok.  Sebuah raungan pun mulai terdengar dari dalam perutku. Uh, aku baru ingat belum makan siang.

Halte tempatku berteduh mulai ramai dikunjungi mereka yang bernasib sama sepertiku. Terkurung hujan disaat banyak keperluan yang menuntut diselesaikan. Contohnya pria paruh baya yang berdiri di penghujung kanopi halte. Pria itu memakai kemeja biru bergaris dan celana bahan hitam, seorang pegawai yang terlihat kesal dengan keadaan. Hal itu dapat disimpulkan dari raut wajahnya yang berkerut gusar, serta gerak-geriknya yang bolak-balik mengecek waktu di ponsel pintarnya.

Berbeda halnya dengan gadis berseragam putih abu-abu dan pemuda berseragam serupa di sampingnya. Mereka berdiri berjarak dua orang dariku. Diam-diam si pemuda mendekatkan jari jemarinya ke arah punggung tangan milik gadis di sebelahnya. Dan bisa ditebak apa yang selanjutnya terjadi.

Aku tersenyum kecil melihatnya. Melemparku pada memori ketika aku berada di posisi mereka. Hari itu adalah hari yang bersejarah bagiku. Untuk kali pertama aku berani mengajaknya pulang bersama sepulang sekolah, walaupun pada kenyataannya rumah kami berbeda arah, tentu saja aku rela melakukan apapun untuknya. Ya, cinta remaja memang tidak rasional.

Hujan yang turun tiba-tiba memaksa kami untuk mencari tempat berteduh. Pilihan kami jatuh pada warung kecil di pinggir jalan. Dia berdiri di sampingku, sesekali menggosok-gosokkan kedua tangannya. Hal kecil tersebut aku anggap sebagai jalan untuk menyentuh hatinya. Kulepas perlahan jaket yang sedang kukenakan kemudian meletakannya dengan sangat hati hati di bahunya. Seketika ia memandangku malu-malu. Pipinya yang merona kemerahan dan senyumnya yang dikulum membawaku terbang ke angkasa. Membuat jantungku berdegup semakin cepat, memberi sensasi aneh di dadaku. Ah, cantiknya. Suasana yang hening semakin membuatku salah tingkah. Aku tak lagi tahan dengan situasi ini. Gemuruh dalam hatiku mulai meronta ingin berekspresi. Suka. Suka. Suka. Aku suka kamu. Sesederhana itu, namun tertahan di lidahku. Ya Tuhan. Mengapa begitu sulit mengutarakan cinta.

“Aku sayang sama kamu, dek”

Aku ingat dengan jelas jari jariku yang menggenggam erat kedua tangannya. Wajahku menunduk, tak berani menatap kedua bola mata yang telah membuatku jatuh hati sejak pertama kali bertatap wajah. Detak jantungku semakin cepat, sampai-sampai aku khawatir dapat didengarnya. Beberapa detik kemudian dia memintaku untuk mengangkat dagu, kuturuti permintaannya namun tetap mengalihkan pandangan. Apa yang dilakukannya benar benar membuat tubuhku kaku tak bergerak, bahkan sulit rasanya untuk menghirup udara. Ya, gadis itu menyentuh pipiku dengan bibirnya yang mungil.

Dan di antara rintik hujan sore itu, aku lah orang yang paling bahagia di dunia.

Kilasan perjalanan cinta kami bergantian tayang di pikiranku layaknya mesin pemutar film di layar lebar. Semenjak saat itu aku selalu mengantarnya pulang ke rumah seusai sekolah. Menemaninya ke toko buku untuk membeli novel-novel karya pengarang favoritnya. Mengetuk pintu demi pintu, bersama sama mencari dana untuk program kerja dalam organisasinya. Memberikan kejutan kejutan manis untuknya di tanggal kami memulai hubungan. Bersepeda di pagi hari dan menghabiskan waktu bersamanya.

Masih jelas dalam ingatanku betapa menggemaskannya wajah itu setiap kali ia bercerita tentang apa yang telah dilaluinya. Kedua matanya yang berbinar, membuatku tak ingin mengalihkan pandangan. Aku ingat bagaimana kami saling menguatkan satu sama lain di saat sulit. Bagaimana kami saling menahan ego dan mengalah, tak tahan berkelahi. Dan bagaimana aku dekat dengan kedua orangtua dan adik kecilnya yang manis.

Seperti musim panas yang berakhir karna musim hujan telah tiba. Pada awalnya aku merasa bahwa hubungan kami akan terus berlanjut seperti kisah cinta di novel-novel romansa favoritnya. Berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Aku juga tidak tahu mengapa dan siapa yang memulai. Tiba saatnya semua terasa hambar. Kami menjadi jarang bertemu dan berkomunikasi. Entah aku yang mulai disibukkan dengan persiapan ujian nasional, atau rasa bosan yang diam-diam menyeruak di hatinya. Aku tidak pernah tahu alasan kepergiannya sampai detik ini. Tiba-tiba dia menghilang tanpa kabar. Menjauh dan tak lagi menganggapku ada. Hingga pada akhirnya sebuah nama asing terukir di bio media sosialnya dan orang lain pun datang menggantikan takhtaku di hatinya.

Setelahnya aku mencoba memulai hubungan dengan yang lain. Namun tak lagi terasa sama seperti ketika aku bersamanya. Ya, masih ada harapanku untuk kembali bersamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hey. I don't know if this will ever find you, or if it even should. But if it does, someday, or somehow, I hope by then, we can remember it all in a way that softens the edges of what we couldn't hold.  Before the beginning, I kept buying myself more time. Telling myself I needed it. More days, more weeks, more moments to understand you, to understand us, to think until I drowned, to stop thinking when it hurt too much, to feel what I kept denying, to forgive what I didn't want to admit, to quiet the storm inside, to loosen my grip, to finally let you go. But every time I said: not today, maybe later, maybe after the next small milestones. After we met. After a week. After your special day. After my birthday. After yours. After December 21. God, it stings just naming that date. And maybe I would keep doing that. Keep pushing the line further away, making excuses, inventing new deadlines just so I could write you back into existence. So I could keep you here, on the page, ev...

Maybe someday, or next week, I’ll finally forget you.

Because today, I still love you. Maybe it’s not even you anymore, but the version of you I kept safe in my head. Maybe that’s why the feeling still stays like they haven't heard the news. Because I keep thinking. Maybe you were just as lost, and just as hurt. That maybe the only reason we bled was because we didn’t know how else to hold our pain. And so the words we said only sounded like weapons. I keep thinking that someday, you’ll find answers you haven’t yet found the words for. And I once wondered: is it love when we believe in it, or is it love when we accept what it never was? I still don’t know. But I do know this: I still check in on you. Still care about things you won’t share. Still wonder about how your heart is doing today. So maybe not now. Because now, you still live somewhere in me. Even when you’ve long been gone. And maybe not yet. Because there are things I still want to write. Yours, I still want to hold space for. And this one thing I still want to say: I still...

It’s your birthday today.

You never liked birthdays. I always wanted to celebrate you. Maybe that’s why we’re not here. It’s your birthday today. Last year, when the day ended, I told myself. Next year, I’d do better. Next year, you’d feel safer. I thought I could give you that. It’s your birthday today. I hope you’re kinder to yourself. Or maybe I’m still pretending I know what’s best for you. It’s your birthday today, and I still hope you heal. The kind that makes you believe. Or maybe I’m still arrogant to think I ever knew enough of you. It’s your birthday today. May your life be long. Your patience, your strength. Your feelings. The ones that make you laugh like the world’s still worth it, or the ones that push you to do whatever it takes. I really hope you find what’s yours. And it finds you. I hope nothing but the best, for you. Today is your birthday. Happy birthday.