Langsung ke konten utama

BERSYUKUR



Alkisah seorang anak bertubuh gembul bernama Doni yang rakus dan gemar membuang-buang makanan. Pada suatu hari, Doni membeli cireng, somay, nasi goreng, dua gelas Cappucino Cincau dan tiga buah donat sebagai penutupnya. Karena tak sanggup menghabiskannya, Doni pun membuangnya ke tempat sampah. Beberapa menit kemudian, datanglah Ibunda Doni. Terkejut melihat banyak makanan yang menumpuk di atas tempat sampah, Ibunda Doni pun memanggil anaknya dan memarahinya. 

Doni menangis dan berlari keluar rumah. Dia pikir, apa salahnya membuang makanan? Perutnya kan sudah penuh, ia tidak akan bisa menghabiskan makanan sebanyak itu. Doni bersungut mengingat amanat ibundanya bahwa ia tidak boleh membuang makanan. Selain mubadzir, ibunda Doni bilang masih banyak orang yang bahkan tidak bisa makan selama berhari-hari. Doni harus bersyukur terhadap rezeki yang Allah berikan.

Di tengah perjalanan, Doni mendengar suara gemerisik dari tempat pembuangan sampah di pinggir jalan. Doni terkejut, terlihat seorang anak laki-laki bertubuh sangat kurus tengah mengais-ngais tumpukan sampah lalu mengambil beberapa hal sebelum berpindah posisi ke depan rumah kosong di sebelah pembuangan sampah tersebut. Doni hendak menghampirinya ketika ia melihat anak itu memasukkan sisa-sisa makanan yang di temukannya ke dalam mulutnya. 

Doni terdiam mematung. Ia kembali mengingat amanah ibundanya. Ia teringat makanan-makanan yang dibuangnya ke tempat sampah. Doni tertunduk dan memutuskan untuk segera kembali ke rumahnya. 

Sesampainya di rumah, Doni pun meminta maaf kepada Ibundanya lalu bergegas menuju lemari es di ruang dapur. Doni memasukkan beberapa snack, sisa pizza semalam, dan beberapa bungkus mie di lemari penyimpanan ke dalam sebuah kantung plastik berwarna putih. Setelah meminta izin kepada ibundanya, Doni segera berlari secepat mungkin menuju rumah kosong di samping tempat pembuangan sampah. Setelah sampai, di dekatinya anak laki-laki yang masih meringkuk di pojok ruangan. Sambil tersenyum, Doni memberikan kantung plastik berisi makanan kepada anak itu. Sehabis berterimakasih, anak itu berlari kecil meninggalkan Doni yang masih memandang kepergiannya. Sebuah senyuman menghiasi wajahnya yang gembul.
 
Cerita diatas merupakan salah satu dari peristiwa yang kita lihat setiap hari. Di satu tempat seorang pejabat tengah menghambur-hamburkan uangnya, korupsi dan sebagainya. Namun di lain tempat, kita sering menyaksikan orang lain harus bekerja siang malam, panas atau hujan, hanya untuk sesuap nasi bagi diri dan keluarganya. Ada pula orang-orang yang bertubuh sempurna, namun melakukan belasan hingga puluhan kali operasi plastik hanya untuk merubah bentuk tubuhnya. Di sisi lain, ada orang lain yang tidak memiliki tubuh sempurna tetapi mereka bersyukur dan tidak merubah bentuk tubuhnya. Sungguh, betapa mirisnya hidup ini...

Seharusnya, kita sebagai manusia, bersyukur atas apa yang telah Allah SWT berikan. Bukan malah bersikap boros, egois dan rakus. Sesungguhnya, semua manusia sama di mata Allah. Segala harta di dunia hanyalah titipan dari Allah yang sewaktu-waktu dapat diminta kembali. 

Jika seseorang menggunakan kenikmatan dari Allah untuk hal-hal yang tidak baik, maka orang tersebut telah mengingkari nikmat Allah atau kufur nikmat. Nikmat Allah yang tidak terhitung jumlahnya, wajib kita syukuri. Dengan cara berterimakasih kepada Allah atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita. 

Semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur kepada Allah SWT. Amin...


 *Hanya gue seorang yang kerajinan bikin cerpen buat tugas Aqidah Ahlak-___- Yang lain cuma pengertian, dan contoh :|

Komentar

Postingan populer dari blog ini

He's still my favorite star.

But I've stepped out of his gravity. There was a time I thought I'd shine brighter orbiting his. As if light only made sense when it came from his direction. Maybe now, I want to be the sea. Or maybe dust. A part of everything  and owed to no one.  Maybe a voice, a line between letters. Or a scent that lingers in the doorway, long after I've left. Maybe I just want to be human again. Someone ordinary. Someone allowed to feel joy without apologizing for it. Someone who still waits for good news without bracing for the worst. Who still hopes. Who forgets, and forgives herself, anyway. I still look at the sky. Mostly after dawn, when everything is hushed, and the prayers still hang in the air. He's probably shining somewhere else now. He always belonged  to a different sky than the one I could reach. And yes, some nights I miss him before I even realize I do. And some mornings, I still look for him out of habit. Glance upward as if he'd still be there. But I'm lear...

I'm starting to wonder if not knowing you anymore was ever the right way.

I've kept my eyes from chasing your name, taught my hands not to reach  for any trace of you. I thought I'd drawn the line.  Thought this might work. I tried to finish the feelings, patiently.  Sometimes still letting them stop by as if they might leave on their own.  I thought I could. I thought I'd grown. Then I saw you. Not on purpose.  Not in any way I could prepare for. And just like that, you tore through every wall I've been rebuilding.  Hole after hole. Until there was no wall at all. So what now? The gap cuts again. And God, I miss you so much, in a way that makes me unsure I could survive this twice. 

It wasn’t an ending.

Not really. Just something unplanned, that turned out to be a beginning. This time, I freed myself from the duty of trying. From the duty to hold, to understand, to accept, question, answer, and wait for something that never once met me halfway. And for the first time in months after everything fell apart, I felt tired in a way that didn’t scare me. Like my body was finally allowed to stop bracing for impact. The fog isn’t gone. But it’s thinning. And though the way out is still sunless, I can feel it. I can feel that there is a way out. Yes, it’s the irony that stings. And the hypocrisy that burns. That I gave so much grace to everything. Except for myself. That I kept waiting to feel like I was worth staying for. When it was always me I kept abandoning. I don’t know how long this will take. How much of me I’ll have to rebuild. Or how many days will still taste like survival. But for now, this is enough. More than enough. Tomorrow can come when it does. Yesterday can stay where it bel...