"Ta!" Aku menoleh setelah melepas helm dan menempatkannya pada salah satu kaca spion yang lebih tinggi. "Kata abangnya, baru ready 15 menit lagi, is it okay?" Langkah besarnya menghampiriku. Ia berdiri dan menjulang. Satu dari sekian hal kecil yang menyenangkan. "Alright then. Mau beli jajan dulu ngga, Ki?" Ia mengangguk, lalu kami beriringan mencari telur gulung. Hawa di alun-alun kota terasa dingin meski tak menusuk. Hujan baru saja reda, aroma aspal yang dibasahi rintiknya, masih menguar di udara. Satu lagi dari sekian hal kecil yang kusukai. Sepanjang perjalanan mencari jajan, aku bercerita padanya tentang seorang teman yang menyebalkan, tentang aku yang sering meninggalkan barang, tentang tumpukan tugas yang menurutnya tak perlu dipikirkan, juga tentang telur rebus dan telur dadar. Sampai ketika kami kembali ke tempat pertama, dan menunggu abang ronde menyiapkan pesanan, aku masih berdongeng ria, sementara ia tersenyum, terpingkal, atau terdiam menden...
I’ve stopped writing here, but thank you for reading.