Langsung ke konten utama

Ngulas Dikit Tentang Film Lupus

Langsung aja ya, jujur sebagai penggemar Lupus gue kecewa berat sama film Lupus yang dibuat Eko Patrio. Film yang baru muncul di bioskop tanggal 4 April kemarin, gagal bikin gue puas dan ngakak berat. Ada beberapa hal yang gue gak suka dari film Lupus, ini dia..

Yang utama dan yang paling penting yaitu tokoh Lupus itu sendiri. Walaupun aktor yang memerankan tokoh Lupus udah pas, tapi karakter Lupus agak beda dalam film "Bangun Lagi Dong, Lupus". Lupus itu orangnya cuek, punya banyak ide, dan suka ngasih banyak tebak-tebakan konyol. Tapi di film gak ada tebak-tebakannya. Dia juga punya bakat di bidang menulis. Dia kan wartawan majalah Hai (dalam novel Lupus). Seharusnya, lebih baik memperlihatkan bagaimana Lupus biasa jadi wartawan majalah Hai, gimana Lupus ngejar-ngejar orang buat di wawancara, atau hal-hal lain yang berbau jurnalistik dari pada membuat lomba Go Green yang terkesan memaksa. Nggak hanya itu, dalam film, tokoh Lupus menjadi terlalu romantis, bertanggung jawab, bijaksana, dan religius. Terus, ciri Lupus bukan cuma permen karet, tapi juga tas dengan tali kepanjangan yang selalu di pake di kepala sama tebak-tebakan konyol. Tapi, cuma permen karet yang ditampilin dalam film.

Yang kedua, tokoh Engkongnya Gusur sama Nyaknya Boim. Engkong Gusur itu gak serenta dan segede dalam film. Badannya kurus, orangnya bawel dan sering marahin Gusur. Namun, di film, tokoh Engkong jadi besar, agak budi, dan gak pernah berantem sama Gusur. Selanjutnya Nyak Boim. Dalam Film, Nyak agak terlalu cakep dan bersih. Sebenernya, kalo dalam novel, Engkong itu naksir sama Nyak Boim. Oiya, menurut gue rumah Gusur sama Boim terlalu bagus untuk ukuran orang yang pas-pasan. Lagi pula seharusnya Gusur cuma tinggal berdua sama engkongnya..

Terus tokoh Gusur, Lulu sama Mami. Setau gue, Lulu gak pernah manggil Lupus pake sebutan "kak" pasti langsung teriak "LUPUUUUUUSSS!!" gitu. Tokoh Mami juga konyol, gak se-sentimentil itu. Perasaan di film, tokoh Mami nangis mulu.. Kalo Gusur, semua puisi buatannya gak ada yang bagus. Tapi dalam film, dia beneran jago sastra, puisinya bagus dan lukisannya bagus. Padahal, Gusur cuma bisa bikin puisi, itu pun gak ada yang bener. Gusur kan seniman sableng..

Secara keseluruhan, film "Bangun Lagi dong Lupus" ini mengecewakan. Kurang lelucon, terlalu banyak adegan galaunya, agak sedikit maksa (apalagi dibagian lomba go green), dan nggak ada climax nya. Terlalu datar bagi gue. Gitu aja.. Kalo mau bikin film tentang Lupus lagi, ajak gue, siapa tau bisa jadi tempat konsultasi.. :-p

Komentar

Postingan populer dari blog ini

He's still my favorite star.

But I've stepped out of his gravity. There was a time I thought I'd shine brighter orbiting his. As if light only made sense when it came from his direction. Maybe now, I want to be the sea. Or maybe dust. A part of everything  and owed to no one.  Maybe a voice, a line between letters. Or a scent that lingers in the doorway, long after I've left. Maybe I just want to be human again. Someone ordinary. Someone allowed to feel joy without apologizing for it. Someone who still waits for good news without bracing for the worst. Who still hopes. Who forgets, and forgives herself, anyway. I still look at the sky. Mostly after dawn, when everything is hushed, and the prayers still hang in the air. He's probably shining somewhere else now. He always belonged  to a different sky than the one I could reach. And yes, some nights I miss him before I even realize I do. And some mornings, I still look for him out of habit. Glance upward as if he'd still be there. But I'm lear...

Maybe someday, or next week, I’ll finally forget you.

Because today, I still love you. Maybe it’s not even you anymore, but the version of you I kept safe in my head. Maybe that’s why the feeling still stays like they haven't heard the news. Because I keep thinking. Maybe you were just as lost, and just as hurt. That maybe the only reason we bled was because we didn’t know how else to hold our pain. And so the words we said only sounded like weapons. I keep thinking that someday, you’ll find answers you haven’t yet found the words for. And I once wondered: is it love when we believe in it, or is it love when we accept what it never was? I still don’t know. But I do know this: I still check in on you. Still care about things you won’t share. Still wonder about how your heart is doing today. So maybe not now. Because now, you still live somewhere in me. Even when you’ve long been gone. And maybe not yet. Because there are things I still want to write. Yours, I still want to hold space for. And this one thing I still want to say: I still...
By the end of this day, I should understand that it’s all really over. I should know, realize, and accept that my more than 10-year first love is not going to happen, even though this morning should’ve been the day we married. Because after all, it hits so hard in a language I have never known before, not even in the hardest period when everything crumbled. It just hurts so much. But I think I have cried my lungs out. And I think I have cried enough. Today is really going to end, and so will my almost.